PENGELOLAAN SAMPAH UNTUK PEMBENTUKAN KARAKTEK PEDULI LINGKUNGAN DI MI HIDAYATUL ISLAM

TAHUN PELAJARAN 2020/2021


 


 


                                                

 

OL EH :

UMI SAROFAH,S.Pd.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MADRASAH IBTIDAIYAH HIDAYATUL ISLAM

NGENDUT UTARA PUCANGANOM KEBONSARI MADIUN

TAHUN PELAJARAN 2020/2021

 



 


 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Segala puji bagi Allah Swt yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya mungkin kami tidak akan sanggup menyelesaikan tugas ini dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas pengetahuan tentang pengelolaan sampah di MI Hidayatul Islam, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini kami susun dengan berbagai rintangan, baik itu yang datang dari diri kami sendiri, maupun yang datang dari luar. Namun demikian, dengan penuh kesabaran dan pertolongan Allah Swt. akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Suciati,S.Pd.I.selaku kepala MI Hidayatul Islam dan semua teman-teman guru yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Harapan kami semoga makalah ini dapat membuka wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Kami sadar bahwa makalah ini memiliki banyak kekurangan, untuk itu kami mohon saran dan kritik dari pembaca.

 

 

                                                                                                Madiun, 20 Juli 2020

                                                                                                            Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................i       

LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………………..ii

KATA PENGANTAR.........................................................................................iii. 


          DAFTAR ISI........................................................................................................ iv

BAB I      PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah ............................................................        1

B.  Rumusan Masalah.....................................................................          8

C.     Tujuan dan Manfaat Penelitian........................................................ ..8

BAB II    LANDASAN TEORI

A.     Pengertian Sampah.......................................................................... ..9

B.     Pengertian Pengelolaan Sampah…………………………………….9

C.     Pendidikan karakter peduli Lingkungan……………………………11

         BAB III    PENUTUP

A.     Kesimpulan...................................................................................... 13

B.     Saran-saran...................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………..17

LAMPIRAN……………………………………………………………….20

 

 


BAB 1

                                   PENDAHULUAN

 

 

A.   Latar Belakang Masalah

 

Sampah merupakan salah satu permasalahan terbesar di negara Indonesia. Hampir disemua sungai, jalan, tempat umum, bahkan di dalam rumah kitapun bisa kita temui sampah. Sampah yang ada saat ini jumlahnya semakin hari semakin bertambah. Apabila sampah yang ada saat ini dibiarkan begitu saja, maka akan mengakibatkan banjir. Setiap kali diguyur hujan deras pasti akan timbul genangan- genangan air di berbagai sudut kota.

Berbagai upaya penanganan sampah gencar dilakukan oleh pemerintah, salah satunya melalui pengelolaan sampah. pengelolaan sampah ini bertujuan untuk mengurangi sampah dengan cara mengubah sampah menjadi berbagai barang bernilai ekonomis. Selaras dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah, saat ini banyak Madrasah yang menerapkan pendidikan karakter peduli lingkungan kepada para siswanya.

Penelitian ini didasarkan pada pertanyaan mendasar mengenai pengelolaan lingkungan yang bisa dilakukan anak-anak usia sekolah dasar

khususnya MI Hidayatul Islam yang mencoba mengelola sampah yang berada di lingkungan sekolah. Hal ini bertujuan agar sampah bisa menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi warga sekolah baik siswa, guru, ataupun karyawan sekolah.

Berdasarkan batasan ilmu pengetahuan sampah yang dalam bahasa Inggrisnya waste pada dasarnya mencakup banyak pengertian. Sampah adalah zat-zat atau benda-benda yang sudah tidak terpakai lagi, baik berupa bahan buangan yang berasal dari rumah tangga maupun dari pabrik sebagai sisa proses industri.

Sampah terdiri dari dua jenis yaitu sampah organik dan anorganik. Kedua jenis sampah tersebut, menurut Undang-undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah telah menjadi permasalahan nasional sehingga perlu adanya pengelolaan agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan. Sampah yang merupakan sisa aktivitas manusia setiap hari sering kali menjadi penyebab kotornya lingkungan. Bersih atau kotornya lingkungan sangat dipengaruhi oleh manusia yang berada di lingkungan itu.

Manusia sebagai makhluk berakal mendapatkan tugas dari Tuhan untuk memelihara lingkungan ini. Bukan berarti dengan manusia yang memiliki akal bertugas memelihara lingkungan, lingkungan menjadi bersih, indah dan aman. Berbagai permasalahan lingkungan pun bermunculan. Permasalahan lingkungan yang dimaksud di sini adalah menyangkut pencemaran, baik pencemaran tanah, air, udara,dan suara.Pencemaran lingkungan tersebut, kebanyakan disebabkan oleh banyaknya sampah yang tidak dikelola dengan baik.

Lingkungan pendidikan, selain harus bersih, rapi juga semestinya dijaga keindahannya. Islam mengajarkan tentang kebersihan, kerapian, dan juga keindahan. Oleh sebab itu, semestinya tidak boleh sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi Islam menampakkan kekumuhan. Merawat kebersihan sebenarnya tidak selalu memerlukan biaya mahal. Asalkan mereka, yang bertanggung jawab, memiliki kepekaan atau terbiasa hidup bersih, maka akan merasa risih manakala lingkungannya tampak kotor. Oleh karena itu, kebersihan hanya terkait dengan kepekaan dan kemauan orang-orang yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Sekolah merupakan salah satu tempat yang sangat berperan dalam menerapkan pendidikan karakter. Anak-anak yang sekolah sebagian besar menghabiskan waktunya di sekolah, sehingga apa yang didapatkan di

sekolah akan mempengaruhi karakternya. Banyak kegiatan yang bisa dikembangkan dalam rangka penerapan pendidikan karakter terutama karakter peduli lingkungan.

Munculnya kesadaran pengaplikasian pendidikan karakter itu, dibidani fenomena degredasi moralitas generasi muda saat ini yang sudah diambang kerusakan. Contoh paling sederhana adalah ketika membuang sampah, sudah jelas ditempat tersebut ada tong sampah yang sudah dipisah-pisah antara sampah organik dan anorganik, namun pelajar atau masyarakat masih banyak yang enggan membuang sampah ditempatnya. Ini merupakan krisis karakter terutama karakter peduli lingkungan yang perlu dibenahi.

Realita saat ini di masyarakat khususnya lembaga pendidikan baik formal ataupun non formal, konsep pendidikan karakter masih sebatas pada pengetahuan dan masih kurang dalam pengaplikasian. Membangun karakter bukanlah sebuah pekerjaan yang instan dan dilakukan secara simultan, tapi sebuah pekerjaan yang membutuhkan sebuah proses yang lama dan bersinergi. Namun, yang menjadi ironis saat ini pendidikan karakter tidak lebih pada ranah pengetahuan. Sehingga keprihatinan tersebut muncul sebuah gagasan untuk menerapkan proses pendidikan karakter di sekolah.

Pada lembaga pendidikan khususnya pendidikan formal, pihak sekolah (guru dan kepala Madrasah) mengajarkan anak tentang nilai karakter, seperti kejujuran, kepedulian, tolong menolong, demokratis, disiplin, dan lainnya, tapi guru dan kepala sekolahnya tidak bisa memberikan contoh tentang nilai-nilai karakter itu sendiri.

Usia sekolah dasar merupakan suatu masa bagi anak, diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa dan memperoleh kepentingan tertentu. Prestasi masa kanak-kanak juga memiliki korelasi dengan kesuksesan pada masa dewasa, sehingga masa ini perlu dimanfaatkan untuk menanamkan dasar- dasar pengetahuan supaya terbentuk suatu kebiasaan yang bermanfaat dimasa dewasa.

Kesadaran pendidikan karakter dari sekolah diharapkan juga  diikuti oleh pihak keluarga, masyarakat, media massa, dan seluruh elemen bangsa ini. Sehingga, terjadi sinergi kekuatan dalam membangun bangsa ini demi lahirnya kader-kader masa depan yang berkarakter. Serta berkepribadian kuat dan cermat.Salah satu karakter yang tidak kalah penting untuk di tanamakan pada diri peserta didik sejak dini ialah sikap peduli terhadap lingkungan. Nilai karakter tersebut berupa sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya. Selain itu, mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

Lingkungan seharusnya dipahami sebagai faktor penting dalam membentuk karakter para siswa dan bahkan juga mahasiswa yang belajar

MI Hidayatul Islam merupakan salah satu lembaga pendidikan formal tingkat sekolah dasar di kecamatan Kebonsari. Lembaga ini alamatnya RT 16 RW 02 Ngendut Utara, Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun. Madrasah ini merupakan salah satu Madrsah Adiwiyata yang memiliki tujuan untuk menciptakan kondisi yang baik bagi Madrasah sebagai tempat pembelajaran sekaligus membangun kesadaran warga sekolah untuk  peduli terhadap lingkungan, Peduli terhadap lingkungan merupakan salah satu bagian dari nilai pendidikan karakter.

Penanaman pendidikan karakter di MI Hidayatul Islam awalnya siswa diberitahu terlebih dahulu, dicontohkan, karena biasanya anak-anak belajar melalui contoh yang baik. Mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan, tenaga admisitrasi, hingga tenaga pembantu pelaksana, harus berkarakter baik atau memberi contoh yang baik kepada siswa.

Adapun kegiatan sekolah dalam pengelolaan sampah studi pembentukan karakter peduli lingkungan di MI Hidayatul Islam yaitu memanfaatkan botol plastik dan kertas untuk dijadikan beraneka macam kerajinan tangan. Salah satu contohnya yaitu memanfaatkan botol plastik untuk dijadikan pot atau membuat tempat file dari kardus bekas. Selain itu mereka juga mempunyai kebun yang ditanami berbagai macam sayuran.

Pelaksanaan pengelolaan sampah di MI Hidayatul Islam yaitu dengan cara bergiliran antara satu kelas dengan kelas yang lain. Namun, lebih ditekankan untuk kelas 4, 5, dan 6, karena usia anak pada tingkat kelas tersebut dirasa sudah mampu untuk melaksanakan pengelolaan sampah.

Mengingat pentingnya lingkungan bagi berlangsung kehidupan, maka alangkah baiknya pendidikan karakter peduli lingkungan ini diterapkan kepada anak mulai sejak dini. Hal ini bertujuan agar dalam diri anak sudah tertanamkan sikap disiplin, terutama dalam membuang sampah.

 

Usia sekolah dasar merupakan suatu masa bagi anak, diharapkan memperoleh dasar-dasar pengetahuan untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa dan memperoleh kepentingan tertentu. Prestasi masa kanak-kanak juga memiliki korelasi dengan kesuksesan pada masa dewasa, sehingga masa ini perlu dimanfaatkan untuk menanamkan dasar- dasar pengetahuan supaya terbentuk suatu kebiasaan yang bermanfaat dimasa dewasa.

Kesadaran pendidikan karakter dari sekolah diharapkan juga  diikuti oleh pihak keluarga, masyarakat, media massa, dan seluruh elemen bangsa ini. Sehingga, terjadi sinergi kekuatan dalam membangun bangsa ini demi lahirnya kader-kader masa depan yang berkarakter. Serta berkepribadian kuat dan cermat.Salah satu karakter yang tidak kalah penting untuk di tanamakan pada diri peserta didik sejak dini ialah sikap peduli terhadap lingkungan. Nilai karakter tersebut berupa sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya. Selain itu, mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

Lingkungan seharusnya dipahami sebagai faktor penting dalam membentuk karakter para siswa dan bahkan juga mahasiswa yang belajar

MI Hidayatul Islam merupakan salah satu lembaga pendidikan formal tingkat sekolah dasar di kecamatan Kebonsari. Lembaga ini alamatnya RT 16 RW 02 Ngendut Utara, Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun. Madrasah ini merupakan salah satu Madrsah Adiwiyata yang memiliki tujuan untuk menciptakan kondisi yang baik bagi Madrasah sebagai tempat pembelajaran sekaligus membangun kesadaran warga sekolah untuk  peduli terhadap lingkungan, Peduli terhadap lingkungan merupakan salah satu bagian dari nilai pendidikan karakter.

Penanaman pendidikan karakter di MI Hidayatul Islam awalnya siswa diberitahu terlebih dahulu, dicontohkan, karena biasanya anak-anak belajar melalui contoh yang baik. Mulai dari kepala sekolah, guru, karyawan, tenaga admisitrasi, hingga tenaga pembantu pelaksana, harus berkarakter baik atau memberi contoh yang baik kepada siswa.

Adapun kegiatan sekolah dalam pengelolaan sampah studi pembentukan karakter peduli lingkungan di MI Hidayatul Islam yaitu memanfaatkan botol plastik dan kertas untuk dijadikan beraneka macam kerajinan tangan. Salah satu contohnya yaitu memanfaatkan botol plastik untuk dijadikan pot atau membuat tempat file dari kardus bekas. Selain itu mereka juga mempunyai kebun yang ditanami berbagai macam sayuran.

Pelaksanaan pengelolaan sampah di MI Hidayatul Islam yaitu dengan cara bergiliran antara satu kelas dengan kelas yang lain. Namun, lebih ditekankan untuk kelas 4, 5, dan 6, karena usia anak pada tingkat kelas tersebut dirasa sudah mampu untuk melaksanakan pengelolaan sampah.

Mengingat pentingnya lingkungan bagi berlangsung kehidupan, maka alangkah baiknya pendidikan karakter peduli lingkungan ini diterapkan kepada anak mulai sejak dini. Hal ini bertujuan agar dalam diri anak sudah tertanamkan sikap disiplin, terutama dalam membuang sampah.

 

B.     Rumusan Masalah

 

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka penulis merumuskan permasalahan : “Bagaimana pengelolaan sampah yang dilakukan siswa MI Hidayatul Islam dalam rangka pembentukan karakter peduli lingkungan?”

C.   Tujuan dan Manfaat Penelitian

 

1.      Tujuan penelitian

 

a.  Mendeskripsikan pengelolaan sampah dalam rangka pembentukan karakter peduli lingkungan di MI Hidayatul Islam Ngendut Utara Pucnganom Kebonsari Madiun

b.  Menganalisis pengelolaan sampah dalam rangka pembentukan karakter peduli lingkungan di MI Hidayatul Islam Ngendut Utara Pucnganom Kebonsari Madiun

2.      Manfaat penelitian

a.  Menambah khazanan tentang pengelolaan sampah dalam rangka pembentukan karakter peduli lingkungan MI Hidayatul Islam Ngendut Utara Pucnganom Kebonsari Madiun

tahun 2020/2021.

b.  Sebagai bahan tambahan pengalaman dan pengetahuan berharga dalam penelitian khususnya bagi penulis.


BAB II

PEMBAHASAN

 

1.      Pengertian Sampah

Sampah adalah sisa suatu usaha atau kegiatan [manusia] yang berwujud padat [baik berupa zat organik maupun anorganik yang bersifat dapat terurai maupun tidak terurai] dan dianggap sudah tidak berguna lagi [sehingga dibuang ke lingkungan].

Jenis Sampah ada 2 yaitu:

a.       Sampah organik atau sering disebut sebagai sampah yang basah adalah jenis sampah yang berasal dari sisa makhluk hidup, sehingga sampah jenis ini dapat mudah hancur dan membusuk dengan cara yang alam

b.      Sampah anorganik atau sering disebut sebagai sampah yang kering adalah jenis sampah di mana zat penyusunan dari senyawa yang non organik dan biasanya berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat  diperbarui lagi seperti minyak bumi, proses industri dan mineral atau tambang

2.      PENGERTIAN PENGELOLAAN SAMPAH

 

Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, daur ulang atau pembuangan dari material sampah. Pengelolaan sampah dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam (resources recovery). Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, dan gas dengan metode dan keterampilan khusus untuk masing- masing jenis zat.

Secara umum pengelolaan sampah dilakukan melalui 3 tahapan kegiatan, yakni : pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan akhir atau pengolahan. Tahapan kegiatan tersebut merupakan suatu sistem, sehingga masing-masing tahapan dapat disebut sebagai sub sistem. Sampah sebagai sesuatu yang sudah dibuang dan tidak digunakan lagi harus dikelola sedemikian rupa, sehingga tidak mencemari lingkungan.15

Yang dimaksud dengan pengelolaan sampah pada makalah ini yaitu meliputi pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, atau pembuangan sampah yang dilakukan oleh siswa MI Hidayatul Islam, dengan sistem pengumpulan untuk didaur ulang


 

 

menjadi kompos untuk sampah yang bersifat organik dan sampah yang bersifat anorganik dibuat berbagai kerajinan tangan yang nantinya sisa dari pengelolaan tersebut akan dijual ke pengepul.

3.      Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan

 

Terminologi pendidikan karakter menurut Marzuki, mulai dikenalkan sejak tahun 1900-an. Thomas Lickona dianggap sebagai pengusungnya, terutama ketika menulis buku yang berjudul Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responbility. Pendidikan karakter menurut Lickona, mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan, mencintai kebaikan, dan melakukan kebaikan.

Menurut Kemendiknas, pendidikan karakter adalah pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter-karakter luhur kepada peserta didik, sehingga mereka memiliki karakter luhur itu, menerapkan dan mempraktikkan dalam kehidupannya, entah dalam keluarga, sebagai anggota masyarakat dan warga negara.Secara praktis, pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai kebaikan kepada warga sekolah atau kampus yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik dalam berhubungan dengan

Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia, lingkungan, maupun nusa bangsa sehingga menjadi manusia paripurna (insan kamil).

Pendidikan karakter sendiri merupakan usaha untuk mendidik anak agar mereka dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.Jadi dalam pengertian yang sederhana pendidikan karakter adalah hal positif apa saja yang dilakukan guru dan berpengaruh kepada karakter siswa yang diajarkannya.

Sedangkan Peduli lingkungan adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

Jadi, yang dimaksud dengan pendidikan karakter peduli lingkungan yang dimaksud disini yaitu suatu usaha untuk menumbuhkembangkan watak atau moral peserta didik agar peduli terhadap lingkungan terutama lingkungan sekolah yang merupakan tempat belajar bagi peserta didik dengan melalui berbagai kegiatan pengelolaan sampah menjadi barang yang berharga dan bernilai ekonomis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III PENUTUP

 

 

A.     Kesimpulan

 

Berdasarkan hasil penelitian pengelolaan sampah di sekolah (studi tentang pembentukan karakter peduli lingkungan di MI Hidayatul Islam Ngendut Utara Pucanganom  maka, penulis mengambil kesimpulan bahwa proses pembentukan karakter peduli lingkungan pada siswa dapat dilakukan dengan berbagai macam metode, antara lain:

Moral Knowing, berdasarkan background sekolah yang merupakan rintisan sekolah adiwiyata, yaitu salah satu program yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup, yang diharapkan seluruh warga sekolah turut berpartisipasi di dalamnya agar siswa lebih kenal dengan lingkungan. Untuk itu, sekolah secara resmi memasukkan pembelajaran dengan basis pelestarian lingkungan hidup kedalam kurikulum.

Tahapan ini cukup memberikan pengetahuan yang banyak terhadap siswa tentang lingkungan, seperti pada: Mata pelajaran PLH, mata pelajaran ini merupakan salah satu solusi untuk mengatasi krisis kualitas lingkungan. Insert mata pelajaran, yaitu sekolah secara resmi memasukkan pembelajaran dengan basis pelestarian lingkungan hidup. Melalui metode ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa terhadap lingkungan,


 

 

melatih siswa untuk bisa mengelola sampah dengan baik serta menyadarkan siswa akan pentingnya peduli terhadap lingkungan.

Moral feeling, berasal dari arahan yang diberikan oleh kepala sekolah melalui rapat dewan guru, beliau menghimbau agar semua warga sekolah mulai dari kepala sekolah sendiri, guru, karyawan serta tim pengendali  sampah yang beranggotakan kelas 6 harus menunjukkan rasa kecintaan mereka terhadap lingkungan, memberikan contoh yang baik dalam menjaga lingkungan kepada siswa-siswinya dan juga adik kelas. Mereka tidak serta merta menyuruh siswa dan adik kelas, tetapi mereka diharuskan ikut terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pembentukan karakter peduli lingkungan pada siswa.

Melalui tahapan ini guru dapat memberikan nilai-nilai nyata pada siswa seperti, senantiasa membuang sampah pada tempatnya sesuai jenis sampah, memilah sampah, membuat karya dari sampah, serta memberikan contoh yang baik dalam membersihkan lingkungan. Saat di ruang kelas pun, guru hendaknya memberikan contoh yang baik, seperti menghapus kembali papan yang telah digunakan, mengembalikan tempat duduk seperti semula, tidak meninggalkan sampah dikelas seperti sampah bekas kertas dan lainnya, membersihkan meja yang digunakan. Yang terpenting dalam pelaksanaan tahapan ini ialah perlu adanya kesesuaian antara perilaku pendidik dengan apa yang pendidik tuntutkan kepada siwa-siswinya.

Moral Doing, Adanya perbuatan nyata yang merupakan proses pembiasaan ini berasal dari kesepakatan antara kepala sekolah dan para guru


 

 

untuk memberikan program pada siswa terkait dengan karakter peduli terhadap lingkungan. Tidak terlepas dari basis sekolah yang merupakan rintisan sekolah adiwiyata, maka sudah semestinya sekolah memiliki banyak program dalam menanamkan kepedulian terhadap lingkungan. Tim pengendali sampah mempunyai peran yang besar dalam membentuk berbagai program yang berkaitan dengan pengelolaan sampah. Berdasarkan hasil diskusi antara kepala sekolah, tim pengendali sampah, serta para guru maka dibentuklah berbagai program pembiasaan bagi siswa.

Moral doing ini, merupakan proses pembentukan karakter yang relatif menetap dan bersifat otomatis melalui proses pembelajaran yang berulang- ulang, baik dilakukan bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Kegiatan pembiasaan di sekolah terdiri atas kegiatan rutin, kegiatan spontan, dan kegiatan terprogram. Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang terus menerus dilakukan di sekolah, seperti kegiatan Jum’at bersih, piket kelas, dan piket mengambil sampah di sekitar lingkungan sekolah. kemudian kegiatan spontan adalah kegiatan yang dapat dilakukan tanpa dibatasi oleh waktu, tempat, dan ruang, contoh: membuang sampah bekas jajan pada tempatnya, memungut sampah yang berserakan. Dan yang terakhir kegiatan terprogram. Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap disesuaikan dengan jadwal yang telah ditetapkan. Contoh: kegiatan class meeting (lomba membuat karya dari limbah), peringatan hari-hari lingkungan, seperti ketika hari bebas kendaraan. Melalui tahapan ini diharapkan siswa terbiasa untuk membersihkan


 

 

lingkungan, terbiasa hidup bersih, serta meningkatkan kebersihan lingkungan sekolah.

B.     Saran-saran

 

Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas, maka penulis hendak memberikan saran kepada pihak-pihak yang terkait dengan hasil penelitian ini guna perbaikan kualitas di masa yang akan datang. Saran-saran tersebut antara lain sebagai berikut:

1.             Kepada Kepala MI Hidayatul Islam hendaknya terus mempertahankan segala usaha dan upaya yang telah dilakukan dalam proses pengelolaan sampah dalam rangka pembentukan karakter peduli lingkungan.

2.             Kepada guru serta karyawan hendaknya lebih meningkatkan pengawasan, lebih giat untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga lingkungan, dan lebih tegas lagi jika ada anak yang tidak menjaga lingkungan, agar seluruh siswa dapat mencintai lingkungan dengan baik

3.             Kepada para siswa diharapkan mematuhi peraturan dan tata tertib yang berlaku serta menampilkan sikap yang baik terhadap lingkungan


 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Ardy Wiyani, Novan. 2012. Pendidikan Karakter Berbasis Iman dan Taqwa.

Yogyakarta: Teras.

 

. 2013. Bina Karakter Anak Usia Dini. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

 

  2013. Konsep, Praktik, dan Strategi Membumikan Pendidikan Karakter di SD. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

 

Dani Sucipto, Cecep. 2012. Teknologi Pengolahan Daur Ulang Sampah.

Yogyakarta: Gosyen Publishing.

 

Dwiyatmo,    Kus.    2007.    Pencemaran    Lingkungan    dan    Penanganannya.

Yogyakarta: PT. Citra Aji Parama.

 

Fadlillah, Muhammad dan Lilif Mualifatul Khorida. 2013. Pendidikan Karakter Anak Usia Dini: konsep dan aplikasinya dalam PAUD. Jogjakarta: Ar- Ruzz Media.

 

Ginanjar Agustian, Ary. 2008. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual: ESQ Emotional Spiritual Quotien. Jakarta: Arga.

 

Gunawan, Heri. 2014. Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi. Bandung: Alfabet.

 

Hadi, Amiril dan Haryanto. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

 

Kutha Ratna, Nyoman. 2010. Metodologi Penelitian Kajian Budaya Dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Kesuma, Dharma dkk. 2011. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Lickona, Thomas. 2013. Educating For Character, Mendidik Untuk Membentuk Karakter. Jakarta: PT Bumi Aksara.

 

                            . 2015. Character Matters; Persoalan Karakter, Bagaimana Membantu Anak Menegmbangkan Penilaian Yang Baik, Integritas dan Kebajikan Penting Lainnya. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

 

Ma’mur Asmani, Jamal. 2013. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Jogjakarta: DIVA Press.


 

 

Musfah, Jejen. 2012. Pedidikan Holistik, Pendekatan Lintas Perspektif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

 

Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Naim, Ngainun. 2012. CHARACTER BUILDING: optimalisasi peran pendidikan dalam pengembangan ilmu pembentukan karakter bangsa. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

 

Rahayu T, Puji. 2010. Ensiklopedi Seri Desa-Kota. Semarang: Aneka Ilmu.

 

Rifa’i, Achmad dan Cathrina Tri Anni. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang: Unnes Press.

 

Rosyid, Nur. 2013. Pendidikan Karakter Wacana dan Pengaturan. Purwokerto: OBSESI Press.

 

Salahudin, Anas dan Irwanto Alkrienciehis. 2013. Pendidikan karakter: pendidikan berbasis agama & budaya bangsa. Bandung: Pustaka Setia.

 

Sumani, Muchlas dan Hariyanto. 2013. Konsep dan Model Pendidikan Karakter.

Bandung: PT Rosda Karya.

 

Sjarkawi. 2006. Pembentukan Kepribadian Anak Peran Moral Intelektual, Emosional, dan Sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Sofian. 2006. Sukses Membuat Kompos dari Sampah. Jakarta: PT Agro Media Pustaka.

 

Sugiyono. 2010. Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung: Alfabet.

 

Suprayogo, Imam. 2013. Pengembangan Pendidikan Karakter. Malang: UIN- Maliki Press.

 

Suwito. Seri Eko-Sufisme %23 31 Sampahmu, Dosamu ! –Suwitons.com

 

Syarbini, Amirulloh. 2012. Buku Pintar Pendidikan Karakter. Jakarta: as@- prima.

Takdir, Muh. 2014. Pendidikan yang Mencerahkan. Malang: UMM Press. Tanzeh, Ahmad. 2011. Metodologi Penelitian Praktis. Yogyakarta: Teras. Wibowo, Agus. 2013. Pendidikan Karakter Berbasis Sastra. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.


 

 

                            .     2013.    Manajemen     Pendidikan     Karakter     di     Sekolah.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

                              dan Sigit Purnama. 2013. Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Wintoko, Bambang. 2012. Panduan Praktis Mendirikan Bank Sampah Keuntungan Ganda Lingkungan Bersih dan Kemapanan Finansial. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

 

W Creswell, John. 2010. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Jogjakarta: Pustaka Belajar.

 

Yaumi, Muhammad. 2014. Pendidikan Karakter: landasan, pilar, dan implementasi. Jakarta: Prenadamedia Group.

 

Zuriah, Nurul. 2008. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                   

 

 

LAMPIRAN

 

                     Siswa-siswi terbiasa memungut sampah yang berserakan di Madrasah



 

Siswa-siswi terbiasa memilah sampah organik dan anorganik



 

Sebagian sampah Anorganik diambil oleh Pemulung



 

 

Siswa membuat kompos dari sampah organik (daun)

 

HASIL DAUR ULANG SAMPAH ANORGANIK

 

Tempat sampah dari tutup botol



Patung dari bubur kertas

 


Tempat Pensil dari botol



 

 

Tas dan Tempat buku dari Kardus

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                          


 

 

 

 



 

 


 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini